Minggu, 15 Mei 2011

Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 11-20)

Indonesia memiliki banyak seniman di bidang musik yang handal, dari 1960 hingga sekarang silih berganti para komposer (pencipta/penggubah lagu) mewarnai perjalanan musik kita dari masa ke masa. Meski popularitas mereka biasanya tergusur oleh para biduan yang menyanyikan lagu-lagu mereka, akan tetapi sebenarnya merekalah yang menciptakan trend musik di setiap dekade.

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka, arasadeta menyajikan daftar para komposer yang memiliki produktivitas tinggi dengan karya berkategori hitsmaker dan dibawakan oleh beberapa penyanyi berbeda. Urutan peringkat bukan berdasarkan kualitas, namun berdasarkan popularitas lagu-lagu yang banyak menjadi hits pada kurun waktu tertentu. Mungkin ada beberapa nama yang saat ini terlupakan karena sudah tidak aktif lagi di blantika musik tanah air.

20. Adjie Soetama sangat berjasa dalam mengangkat karir alm. Chrisye. Lewat lagu “Aku Cinta Dia” (1985), popularitas Chrisye menanjak tajam. Belakangan lagu ini kembali sukses saat Gita Gutawa mendendangkannya dalam album “Harmoni Cinta” di tahun 2009. Sejak saat itu ia kerap berkolaborasi bersama Chrisye dalam setiap kesempatan termasuk dalam menggubah lagu. Hasilnya Vina Panduwinata berhasil meraup sukses lewat lagu “Cinta” (1986), sementara itu, lagu “Hip hip Hura” (1987) kembali mengulang sukses Chrisye sebelumnya. Lagu lainnya yang lumayan menuai sukses diantaranya “Ada Kamu” (Irianti Erningpraja-1987) dan “Tinggal Bilang” (Trie Utami-1990).

19. Amin Ivo’s seperti halnya Bebi Romeo, berhasil membangun nuansa tempo dulu dalam lagu-lagu ‘baru’ miliknya. Lewat “Kau Bukan Dirimu” (1993) masyarakat seolah menikmati lagu nostalgia padahal lagu tersebut adalah lagu terbaru Dewi Yull saat itu. Musik panggung, televisi, dan radio pada pertengahan dekade 1990-an menjadi serba nostalgia. Tidak heran jika pada kurun waktu itu Amin Ivo’s kebanjiran order. Setelah “Kau Bukan Dirimu”, Dewi Yull membawakan lagu berikutnya, “Kini Baru Kau Rasa” (1994). Karya cipta Amin juga dibawakan Rafika Duri (“Kekasih”, 1994), Andi Meriem Matalata (“Mudahnya Bilang Cinta”, 1994), Christine Panjaitan (“Getaran Kasih”, 1995), Emilia Contessa (“Takkan Pasrah”, 1995), Iis Sugianto (“Kemana Lagi”,1995). Semua rata-rata mendapat sambutan positif masyarakat. Amin juga pernah menggubah lagu ber-genre dangdut lewat vokal Rita Sugiarto (“Biarlah Merana”, 1996).

18. James F. Sundah mulai berkibar di jagad musik tanah air sejak 1977, kala itu lagu “Lilin-lilin Kecil” ciptaannya yang dibawakan alm. Chrisye menjadi pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors. Di era ‘80-an, ia semakin menanjak dengan lagu-lagu larisnya, diantaranya “Astaga” (1986) dan “Amburadul” (1987) keduanya dibawakan oleh Ruth Sahanaya; serta “Sakukurata” (1986) yang dinyanyikannya sendiri. Tembang “Astaga” menjadi salah satu tembang yang fenomenal di Indonesia, sampai kini lagu tersebut demikian melekat di hati para pecinta musik. Sementara itu lagu “September Ceria” (1983), yang juga fenomenal, serta “Cintamu” (1989) berhasil melejitkan nama Vina Panduwinata dan Yana Julio. Tak banyak orang ingat ternyata Krisdayanti (waktu itu menggunakan nama Dayanthi) di kala remaja sempat menyanyikan karyanya berjudul “Jangan Lagi” (1991).

17. Ian Antono adalah komposer yang produktif dan hitsmaker yang mewakili aliran musik rock. Selain menciptakan lagu untuk band-nya God Bless, karya-karyanya kerap pula dipopulerkan oleh penyanyi-penyanyi solo. Banyak lagu hits lahir dari tangannya, yang paling sukses adalah “Panggung Sandiwara” yang beberapa kali dirilis ulang, demikian pula halnya “Uang...Lagi-lagi Uang” (Pretty Sister-1983) yang kemudian direkam ulang dengan judul “Uang” oleh Nicky Astria sepuluh tahun kemudian, dan oleh band Cokelat sekitar dua puluh tahun kemudian (terdapat dalam album "Tributte to Ian Antono"-red). Lagu lainnya yang cukup mendapat sambutan adalah “Tertipu Lagi”, “Rumah Kita”, “Neraka Jahanam” ketiganya milik God Bless; dan “Suka” (Nicky Astria-1995). Satu lagu yang ia persembahkan untuk sahabatnya Ahmad Albar secara solo sempat mengejutkan khalayak karena bernuansa Timur Tengah, berjudul “Zakia”, lagu ini sampai sekarang ditasbihkan sebagai lagu dangdut yang kerap didendangkan para biduan dangdut. Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi Ian Antono, perusahaan rekaman Sony BMG Indonesia merilis album "Tributte to Ian Antono" tahun 2004, para penyanyi yang terlibat di album ini diantaranya grup band Padi, Gigi, Sheila On 7, /rif, Audy, Glenn Fredly, dan sebagainya. Lagu andalan dari album ini adalah "Rumah Kita" yang dinyanyikan seluruh penyanyi dan dinamakan Indonesian Voices.

16. Dadang S. Manaf terhitung sangat produktif di era ’80-an sampai ’90-an. Tidak seperti komposer kebanyakan yang biasanya segmented, Dadang tidak mengenal ‘pop cengeng’ atau ‘pop kreatif’ karena karya-karyanya menyebar di kedua aliran pop itu. Jadi tidak heran, lagu ciptaan Dadang bisa menjadi hits lewat suara Chrisye, Tika Bisono, Ermy Kullit, tapi bisa pula dipopulerkan oleh penyanyi semacam Angel Pfaff, Endang S. Taurina, Iis Sugianto atau bahkan Poppy Mercury. Beberapa karyanya yang terkenal “Ketika Senyummu Hadir” (1990) yang dilantunkan oleh Tika Bisono, yang kini dikenal sebagai psikolog kondang, “Nostalgia SMA” (1988) yang disuarakan dengan manis oleh Paramitha Rusady, “Januari yang Biru” (1986) tembang syahdu Andi Meriem Mattalata, juga “Betapa Aku Sayang Padamu” (1994) milik Poppy Mercury.

15. Dorie Kalmas, salah satu komposer dari banyak lagu hits sepanjang pertengahan ’80-an sampai akhir ’90-an. Karyanya antara lain dinyanyikan oleh Fariz RM, Yana Julio, Andi Meriem Mattalata, Titi DJ dan masih banyak lagi. Meskipun beberapa lagunya kerap kali mirip dengan lagu 'orang lain', tapi dia sukses mengangkat banyak nama. Beberapa hits-nya yan cukup sukses di pasaran adalah “Iman dan Godaan” (Fariz RM & Dian PP-1989), “Bahasa Kalbu” (Titi DJ-1999), “Hasrat Cinta” (Yana Julio-1994) dan “Selamanya Cinta” (Yana Julio-1995), “Segala Rasa Cinta” (Fryda-1998), “Bila” (Irma June-1991), “Susi Bhelel” (Fariz RM-1989), “Kembalilah” (Ronnie Sianturi-2000), “Hanya Ingin Dirimu” (Asti Asmodiwati-1992), dan lain-lain. Karyanya yang fenomenal adalah “Nada Kasih” (Fariz RM & Neno Warisman-1987 yang dirilis ulang Rio Febrian & Erra Fazira-2000).

14. 2D (Dian Pramana Poetra & Deddy Dhukun). Dian Pramana Poetra mulai eksis pada 1980 di ajang festival Lomba Cipta Lagu Remaja 1980. Dian sempat meraih juara tiga lewat lagu "Pengabdian". Di kemudian hari ia lebih sering berkolaborasi dengan musisi Deddy Dhukun, baik ketika menyanyi ataupun dalam mencipta lagu, hingga membentuk duo 2D yang menghasilkan hits “Keraguan” (1987) dan “Masih Ada” (1989). Grup lain yang merupakan ‘turunan’ 2D yaitu Kelompok 3 Suara (K3S) dengan menambah satu penyanyi lagi (yang juga salah satu musisi handal-red), Bagoes A. Ariyanto, dan menghasilkan dua lagu yang meledak dipasaran di tahun 1987 berjudul “Oh Ya??” dan “Bohong”. Sejumlah penyanyi besar di masa itu sempat menyanyikan karya Dian dalam album rekaman. Mulai dari Fariz RM, Utha Likumahuwa, Ruth Sahanaya, Hetty Koes Endang, hingga Chrisye dan Broery Marantika. Beberapa hits sukses karya Dian (dan 2D-red) yang dibawakan penyanyi lain diantaranya “Aku Ini Punya Siapa” (January Christie-1987), “Biru” (Vina Panduwinata-1987), “Kuingin Kau Ada” (Trie Utami-1989), “Jalan Masih Panjang” (7 Bintang-1989) dan “Masa Kecilku” (Elfa’s Singer-1988). 2D juga pernah memiliki andil dalam mengorbitkan penyanyi muda, sebut saja Ismi Azis dan Malyda. Lagu “Semua Jadi Satu” (1987), karya 2D, berhasil mempopulerkan nama Malyda di blantika musik Indonesia, sementara Ismi Azis namanya tiba-tiba melesat setelah merilis lagu "Untukmu Sayang" (1988). Hits solo Dian yang sempat sukses yaitu “Kau Seputih Melati” (1986) dan “Melati di Atas Bukit” (1985). Sementara setelah 'berpisah' dengan Dian, Deddy bersama Malyda pernah berkolaborasi bersama Fariz RM menghasilkan hits “Tak Pernah Berubah” (1990) dan juga duet dengan Trie Utami dalam lagu ringan “Entah Apanya” (1990). Deddy juga pernah mencoba mengorbitkan penyanyi baru, Mira Indrasari di tahun 1993 dengan tembang yang lumayan populer di radio-radio, “Ada Apa?”, namun sayang, sekarang nama Mira tidak terdengar lagi di blantika musik kita.

13. Younky Soewarno adalah musisi yang berperan besar dalam debut karir dua diva Indonesia, Krisdayanti (KD) dan Rossa. Bersama Christ Pattikawa, ia membawa KD ke pentas Asia Bagus hingga akhirnya menjuarai Grand Final tahun 1992. Sementara itu, album “Nada-nada Cinta” (1998) yang ia garap menandai awal eksistensi Rossa di blantika musik Indonesia. Ia pun sukses membawa trio AB Three, yang juga jebolan Asia Bagus, menuju kesuksesan lewat karya-karyanya. Dalam album perdana trio Widi, Nola,dan Lusy yang bertajuk “Cintailah Aku” (1995), hampir seluruh lagu digubah oleh Younky Soewarno. Di album ini terdapat lagu daur ulang dari hits Atiek CB “Terserah Boy” (OST Catatan Si Boy-1989) dalam versi lirik berbahasa Inggris yang ditulis oleh Tengku Malinda, presenter berita TVRI, berjudul “Get Into the Heat”. Hampir seluruh album AB Three yang pernah dirilis, diproduseri pula oleh Younky. Beberapa hits lain dari Younky diantaranya “Jerat-jerat Cinta” (Trio Libels-1992), “Tanpa Dirimu” (Paramitha Rusady-1991), “Cintaku Padamu” (1992) dan “Sanggupkah Aku” (1990), keduanya milik Ita Purnamasari, “Biar Kusimpan Rinduku” (Novia Kolopaking-1994), “Izinkanlah” (Nike Ardilla-1991, diciptakan bersama Cecep AS-red), Bias Sinar (Nicky Astria-1990), “Harus Kumiliki” (Ruth Sahanaya-1994), “Cemburu” (Atiek CB-1990), “Sudahlah Aku Pergi” (Ahmad Albar-1992), dan masih banyak lagi. Yang menarik, sang istri Maryati, terlibat dalam banyak lagu sebagai penulis lirik.

12. Pance F. Pondaag merupakan pencipta lagu seangkatan Obbie Messakh di jalur pop melankolis atau bagi sebagian orang yang antipati terhadap genre ini sering mengistilahkannya ‘pop cengeng’. Selain komposer handal, ia dikenal juga pandai mencetak bintang. Contohnya saja Meriam Bellina dan Dian Piesesha. Meriam memang lebih dulu berkarir sebagai bintang layar lebar, namun sebagai penyanyi, mendiang Pance-lah yang mengorbitkannya. Hits fenomenal yang ia hasilkan yaitu “Tak Ingin Sendiri” (1984) milik Dian Piesesha. Lagu ini pula yang membuat nama Dian menjadi begitu populer di tanah air waktu itu. Album Dian ini menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa di Indonesia. Selanjutnya Dian menjadi 'langganan' melantunkan karya Pance, seperti “Engkau Segalanya Bagiku” (1986) dan “Mengapa Tak Pernah Jujur” (1987). Sedangkan Meriam Bellina terkenal lewat lagu “Untuk Sebuah Nama” (1984), “Kerinduan” (1985) dan “Mulanya Biasa Saja” (1987). Demikian halnya dengan Maya Rumantir, awal kiprahnya di dunia musik tak lepas dari tangan Pance. Maya sempat hits dalam lagu “Rindunya Hatiku” (1981) dan “Hatiku Masih Rindu” (1982). Karya Pance juga sempat mempopulerkan enam gadis orbitan JK Records (Prilly Priscillia, Gladys Suwandhi, Annie Ibon, Mega Sylvia, Nindy Ellesse, dan Hana Pertiwi - 6 Artis JK-red) lewat lagu “’Kekasih” (1990). Tiga dari enam artis itu (Gladys, Mega, Nindy-red) belakangan membentuk trio Glamendy. Selain itu tembang “Kucari Jalan Terbaik” yang dinyanyikan Pance sendiri dan kemudian dirilis ulang Broery Marantika, sampai saat ini termasuk salah satu tembang yang paling banyak dicari di tempat-tempat karaoke. Pance meninggal dunia pada 3 Juni 2010 akibat penyakit stroke yang dideritanya.

11. Muchtar B merupakan sosok komposer dangdut yang sangat fenomenal di dekade ‘80-an sampai ‘90-an. Karya-karyanya secara umum selalu mampu mengangkat popularitas sang penyanyi. Lirik lagu cinta dan penderitaan acapkali diungkapkan dengan gaya setengah jenaka bahkan jenaka sepenuhnya, sehingga tidak terkesan 'cengeng', inilah salah satu ciri khas dari karya musisi yang wafat pada 5 Januari 2010 ini. Tengoklah lagu yang sangat fenomenal milik Itje Tresnawaty, “Duh Engkang” (1989), liriknya dipenuhi bahasa campuran antara Indonesia dan Sunda sehingga terdengar kocak tanpa kehilangan maknanya, meski sesungguhnya lagu ini bertemakan penderitaan istri yang diduakan oleh suaminya. Sampai-sampai banyak sekali pencipta lagu dangdut saat itu yang meniru gayanya dengan mencampur bahasa daerah dan Indonesia ke dalam lirik hingga menjadi trend. Di awal karirnya, Itje juga pernah mencetak hasil gemilang lewat karya Muchtar B berjudul "Dibelai" (1983). Selanjutnya Itje kerap berkolaborasi dengannya dan selalu meraih hits, diantaranya lewat "Madu Merah" (1990) dan "Lenggang Kangkung" (1992). Selain itu, ia juga sukses mengangkat pamor penyanyi-penyanyi baru, seperti Evie Tamala, Ine Synthia, dan Lilis Karlina. Lagu sukses lain yang terlahir melalui tangannya, diantaranya “Dokter Cinta” (Evie Tamala-1989), “Goyang Karawang” (Lilis Karlina-1991), “Kacamata Hitam” (Ayu Soraya-1988), “Cinta Bukan Sayur Asem” (Ine Synthia-1992), dan tentunya masih banyak lagi. Lagu “Suling Bambu” (1982) milik Herlina Effendi pun begitu terkenal sampai sekarang melebihi popularitas penyanyinya sendiri.

Selanjutnya:
Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 5-10)
Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 3-4)
Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 2)
Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 1)
Sebelumnya:
Daftar Komposer Produktif dan Pencetak Hits (Posisi 21-28)

2 komentar:

wah komplit sekali gan daftar komposernya,salam kenal ya gudang lagu dangdut

Terimakasih telah membuat sekilas info tentang ayah saya.
Saya putra dari bapak muchtar.b
sekali lagi terimakasih admin ^_^

Posting Komentar

Komentari walau dengan sedikit kata. Jika ingin menambahkan icon smiley, ketik karakter seperti yang tertera di samping kanan icon yang mewakili perasaan anda.

Artikel Popular

Arsip

detikcom

Peringkat Alexa